dafrat Blog Q

MyCSSMenu Save Document [+] Open Visual Interface

Sunday, February 17, 2013

1702 Jomaris Pejuang Pendidikan di Tasik Betung


Jomaris Guru Perintis di SD Tasik Betung 

TASIK BETUNG- Tepatnya di pinggir Tasik Betung desa Tasik Betung Kecamatan Mandau, Siak, di sana pemerintah Kabupaten Bengkalis mulai mendirikan satu sekolah SD pada tahun 1995, pada waktu itu Jomaris di tugaskan mejadi guru merangkap Kepala Sekolah, petugas tata usaha dan kebersihan, begitulah usaha yang harus dilakukan karena hanya sendiri di utus untuk menjalankan pendidikan di sekolah tersebut.

Kondisi Tasik Betung saat itu sangat terisolir, hanya ada transportasi laut menuju daerah itu. Keberadaan Tsik Betung yang bermuara ke Sungai Siak dan beberapa anak sungai dimanfaatkan warga setempaat sebagai jalur transfortasi, sementara daerah terdekat yakni dengan menuju Siak Kecik, dengan menggunakan pompong darti Tasik Betung menuju Siak Kecik membutuhkan waktu setengah hari atau bahkan satu hari, hal itu tergantung kecepatan pompong dan arah arus. Meskipun daerah tersebut jauh dan sangat terpencil, namun Jomaris mengaku senang dan tenang ditugaskan di tempat itu, senang karena bisa mencerdaskan anak setempat yang mana pada waktu itu belum ada satu orang pun yang lulus sekolah SD. “Alhamdulillah, pertama saya datang di sini, baik orang tua atau anak belum ada yang lulus SD. Dan saya senang bisa mengajar, memberantas buta huruf dan menyampaikan apa yang saya ketahui sebagai lading amal,” ungkap Jomaris di hadapan Salam BaiQ, Sabtu (16/2) di kantornya.


Mengajarkan semua mata pelajaran dan beberapa kelas dialaminya selama 3 tahun, hingga pada tahun 1998 ditugaskan seorang guru guna membantu tugasnya. Mengajar berdua dialaminya selama 6 tahun, artinya sudah tiga angkatan murid diluluskan dari usaha mereka berdua. Harapan mendapatkan bantuan guru guna memajukan sekolah tersebut akhirnya datang, pada tahun 2004 SD tersebut mendapat bantuan satu orang guru honor dan tahun 2005 sebanyak 4 orang guru PNS di kirim ke sekolah tersebut.

Tidak hanya keterbatasan SDM, pada awalnya sekolah tersebut hanya dilengkapi dengan fasilitas dua ruang belajar dan itu berlangsung selama 12 tahun, 2 ruang belajar tersebut digunakan untuk mengajar murit dari kelas satu sampai kelas 6, mengajar 3 kelas dalam satu ruangan merupakan usaha yang dilakukan saat itu. Hingga akhirnya pada tahun 2007 sekolah tersebut mendapat bangunan baru. “Pada waktu itu, karena lokalnya Cuma dua, terpaksa satu lokal kami gunakan untuk tiga kelas secara bersamaan,” ungkapnya.

Saat ini sekolah tersebut memiliki 4 ruang belajar, shingga masih ada dua kelas yang terpaksa dijadikan satu karena keterbatasan fasilitas. Selain itu, SD tersebut sudah memiliki kelas jauh dengan fasilitas 2 ruang belajar dan sudah memiliki murid 6 kelas, sehingga kelas jauh harus mengalami nasib yang sama dengan sekolah induknya pada awal berdiri. Namun demikian jomaris mengaku masih sangat sedikit murid yang diterima di tiap tahun ajaran baru, dari awal hanya ada 7 atau 10 murid yang mendaftar tiap tahunnya, jumlah tersebut kini sudah mengalami peningkatan, di tahun 2012 lalu sebanyak 25 murid mendaftar di sekolah tersebut, dan itu termasuk kelas jauhnya. Menurutnya, hal itu mungkin yang menjadi penyebab pemerintah belum mengabulkan usulannya untuk menambah ruang belajar.

Saat ini terdapat 6 Guru PNS, 3 Guru honor dan 3 penjaga sekolah yang bertugas di sekolah tersebut, mereka bertugas di sekolah induk dan kelas jauh. Pada sekolah tersebut belum terdapat guru agama islam, sehingga guru kompetensi lain terpaksa dipercayakan untuk menyampaikan materi agama. “Kami masih kekurangan Guuru agama,” ungkap Jomaris

Untuk melanjutkan pendidikan, lulusan SD tersebut harus berusaha keras, pasalnya SMP terdekat berada di Desa Bencah Umbai yang berjarak lebih dari 100 Km. hal itu menunjukkandaerah tersebut masih sangat terpencil dan membutuhkan perhatian khusu.


Itulah kondisi Desa Tasik Betung, yang saat ini dikelilingi HTI PT Arara Abadi, belum ada jalan darat yang dibangun pemerintah menuju daerah tersebut, dan mungkin sangat susah pemerintah untuk bisa membangunnya pasalnya sudah menjadi HGU perusahaan. Jalan yang dibuat PT untuk mengeluarkan kayu tanamannya merupakan jalan terdekat yang digunakan masyarakat setempat untuk keluar daerah atau menuju Kota Kabupaten.
Kepsek SD 06 Tasik Betung Jomaris (2kiri), Reporter Haluan Riau Abdus Salam (2kanan) Anggota Pecinta Alam Siak Tarseno (1kanan) foto bersama di depan SD 06 Tasik Betung. SD tersebut terletak pas di pinggir tasik. 1602 2013

1 comment:

  1. tulisannya bagus....dan salut buat pak guru Jomaris...

    ReplyDelete